Selasa, 11 Oktober 2011

Buku SBY-MUNDUR

Kami hanya ingin Share Informasi saja kepada seluruh pembaca blog ini, dan kamipun tidak menjual buku ini, mungkin kalau anda butuh buku ini, tinggal cari aja di Toko-toko buku di wilayah terdekat di kota anda, di Gramedia, ataupun bisa juga anda dapat di Penerbit buku ini, untuk alamatnya ada di bawah ini. Terima Kasih..! By. Ahmad Muhibullah (Panggilan MUHIB).


Data buku
JUDUL : SBY Mundur-Pertanggungjawaban Politik Pemuda Indonesia
PENULIS: Petisi 28
PENERBIT: Doekoen Coffe. Graha Permata Pancoran Blok A-1. Jl Raya Pasar Minggu Kav.32 Pancoran Jakarta. Indonesia 12780. Telpon (021) 7948867. Fax. (021)7945216
E-mail: kepemimpinan-pemuda@gmail.com
petisi-28@yahoo.com
ISBN: 978-602-96330-1-6
CETAKAN : pertama Oktober 2010, kedua April 2011
TEBAL: xxxiv + 124 halaman.

ISI BUKU:
Bab I: Pandangan Pembukaan. Pancasila sebagai dasar Piagam yang Universal untuk Kesejahteraan Umat Manusia. Oleh Ir. Soekarno

Bab II: Petisi Pemuda Indonesia

Bab III. Kegagalan Mendasar Presiden SBY Memimpin Bangsa dan Negara

Bab IV. Reformasi 1998: Bukan Sekedar Salah Arah, Tapi Sebuah Pengkhianatan

Bab V: Pertanggungjawaban Pemuda Indonesia: Revolusi menuntut Presiden SBY Mundur serta Menegakan Kembali Pancasila dan UUD 1945

Bab VI: Prinsip Dasar Menata Ulang Indonesia: Pelembagaan Negara Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945

Bab VII: Menegakan Kembali Way of Live Bangsa Indonesia

Bab: VIII: Gerhana Kegelapan Melanda Dunia: Membangun Kembali Dunia Baru Yang Bebas dari Neokolonialisme dan Imperialisme

Bab IX: Pandangan Penutup. Pemuda Indonesia dan Politik oleh Drs. Mohammad Hatta

Pengantar Penulis

 
Sumber tulisan di bawah ini : http://www.petisi28.com/article/212/Edisi-Baru-SBY-Mundur.htm

Mengapa SBY harus Mundur? Temukan jawabannya di Buku Edisi Baru SBY Mundur di toko-toko buku terdekat anda.

 

Pengantar Penulis

Sebagian dari sejarah bangsa ini,  telah ditulis oleh para pemuda sebelum kami. Sebagian dari sejarah bangsa ini ke depan, akan kami tulis sendiri dengan ketulusan

Pergerakan pemuda di era reformasi sedang mengalami “kemarau” panjang baik ideologi maupun teori pergerakan. Ideology dan teori pergerakan sebagai panduan untuk mengubah keadaan bangsa dan masyarakat, serta landasan untuk membangun kembali sebuah tatanan kenegaraan yang telah hancur, nyaris dianggap tidak penting lagi oleh sebagian besar pemuda di berbagai pelosok.

Mungkin saja, nilai-nilai idealisme, yaitu nilai-nilai memperjuangkan kepentingan umum, yaitu kepentingan rakyat dan bangsa telah lenyap di benak sanubari para pemuda, dan diganti dengan nilai-nilai yang mengutamakan kepentingan jangka pendek untuk pribadi dan keluarga. Lantaran itu, aspek-aspek substantif, yaitu ideologi dan teori gerakan, dianggap tidak begitu penting lagi.
Ukuran kesuksesan seorang pemuda saat ini tidak lagi dinilai dari kepribadiannya yang jujur, bersih dan senatiasa mempunyai keberanian memperjuangkan kepentingan bangsa atau kepentingan orang banyak. Ukuran kesuksesan seorang pemuda saat ini adalah ketika dia berhasil menjadi seorang pejabat, entah sebagai anggota DPR atau pejabat daerah.

Seorang pemuda dianggap lebih sukses lagi, ketika dia mampu menjadikan jabatan yang diemban tersebut sebagai alat untuk memperkaya diri, punya mobil mewah, rumah mewah, yang kesemua kekayaan tersebut didapatkan dari mencuri uang negara, atau mengeksploitasi sumber daya alam. “Kaya mendadak adalah gejala sosial yang tumbuh sangat subur di era reformasi”. Hidup sederhana dengan penuh kejujuran dan ketulusan adalah barang antik yang hanya ditemukan di loakan (pasar barang bekas).

Inilah kemunduran dan keterbelakangan moral dan mental yang terjadi di era reformasi.  Keterbelakangan tersebut sangat merata, dan tak pernah terjadi dalam fase-fase sejarah panjang Indonesia sebelumnya. Keterbelakangan moral dan mental tersebut adalah ketika hampir mayoritas pemuda Indonesia, telah menurunkan derajatnya sebagai manusia yang mempunyai harkat dan martabat, menjadi semata sebagai komoditi yang siap dijual dan dibeli.

Pemuda yang mempunyai nilai-nilai sebagai manusia, yang pernah tumbuh subur di era sebelum  dan di saat perjuangan kemerdekaan 1945, perlahan mulai punah. Pemuda yang mempunyai keberanian untuk mengorbankan kepentingan pribadinya untuk memenangkan kepentingan bangsa, telah mengalami kekeringan di era reformasi.
Pemuda di era reformasi adalah “pemuda sebagai komoditi”. “Pemuda sebagai manusia” telah dimusnahkan secara sistematis. Pemuda era reformasi adalah pemuda yang dibentuk oleh lingkungan sosial dan sistem negaranya sebagai komoditi politik yang diperdagangkan.

Inilah fakta bergesernya nilai dan filosofi yang sangat drastis terjadi pada pemuda Indonesia dan sebagian besar masyarakat Indonesia di era reformasi. Sebuah fakta sosial yang bahkan di era Presiden Soeharto yang dijatuhkan oleh gerakan pemuda, tidak begitu masif terjadi.

Karena itu, perjuangaan terbesar dan terberat bagi Pergerakan Pemuda saat ini bukan semata mengganti sebuah pemerintahan. Perjuangan terberat dari pergerakan Pemuda saat ini adalah merevolusionerkan “mindset” atau cara pandang pemuda dan seluruh rakyat Indonesia untuk kembali pada nilai-nilai kemanusian dan keadilan. Kembali pada nilai-nilai tanpa pamrih pada jabatan dan harta dalam perjuangan membela kepentingan bangsa dan negara. Kembali pada nilai-nilai memperjuangkan kepentingan umum, dengan ketulusan untuk mengorbankan kepentingan pribadi dan kelompok.

Revolusi mindset atau revolusi cara pandang adalah agenda prioritas saat ini, sebagai syarat untuk menempuh dan mewujudkan revolusi fisik. Upaya membersihakan pikiran dan cara pandang pemuda yang sudah terjangkit virus atau bakteri liberalisme dan individualism, untuk kembali pada cara pandang yang berlandaskan pada filosofi kerjasama, gotong royong dan kekeluargaan adalah sebuah pekerjaan maha-berat yang harus ditempuh secara sungguh-sungguh.

Buku SBY Mundur ini diterbitkan sebagai jawaban atas kekosongan pandangan dan landasan ideologis di kalangan aktivis pemuda tersebut. Sebagai formula untuk membasmi bakteri liberalisme, individualisme, dan mental pamrih yang menjangkit luas di kalangan pemuda. 
Buku ini juga dimaksudkan untuk menjawab kekosongan perdebatan ideologis dan teoritik untuk memahami akar masalah yang sedang dihadapi bangsa Indonesia selama belasan tahun reformasi. Terasa sekali, sebuah gerakan yang berkembang  di kalangan aktivis Pemuda Pergerakan saat ini sangat jauh dari spiritual gerakan. Sebuah ritual (action) gerakan, melalui aksi massa, tanpa disertai pegangan spiritual (ideology) yang kuat dan kokoh sebagai landasan dan panduan dalam pergerakan.

Membicarakan soal ideologi gerakan berarti membicarakan kembali Pancasila  sebagai landasan dan panduan gerakan politik pemuda. Di kalangan sebagian intelektual dan aktivis, membicarakan soal Pancasila dan UUD 1945, memang dianggap kuno dan tak bermutu. Tema nasionalisme, politik perwakilan, musyawarah-mufakat, filosofi kerjasama dalam bidang ekonomi, sistem sosial kekeluargaan, serta konsepsi negara gotong royong adalah gagasan politik yang dituduh sebagai gagasan yang tradisional dan tidak modern.
Gagasan tersebut malah dianggap dan dituduh sebagai gagasan yang hanya milik  Tentara, gagasannya Orde Baru, gagasannya pemerintah yang menghendaki kekuasaannya tetap kokoh. Padahal gagasan tersebut bukan buatan tentara dan Orde Baru, tapi suatu gagasan yg di-sintesa oleh para pendiri bangsa pada tahun 1945 sebagai jawaban untuk menyatukan dan memerdekakan bangsa Indonesia.

Generasi pemuda saat ini memang telah menjadi generasi yang sombong, sebuah generasi yang melupakan dan mencampakan sejarah besar yang pernah dicapai bangsanya. Sebuah generasi yang sering melecehkan dan menyepelekan bangsanya  sendiri. Generasi yang tidak mau mempelajari atau membaca kembali pemikiran besar para pendiri bangsa Indonesia, pikirannya Soekarno, Hatta, dll.

Hanya pikiran-pikiran teori dan ideology yang tumbuh di Eropa, Amerika, China dan Arab, yang disenangi untuk dipelajari dan dijadikan sebagai acuan. Kita memang wajib mempelajari sejarah dan sistem yang berkembang di belahan bangsa lain, agar kita bisa berkaca, untuk membangun bangsa kita yang lebih maju dan moderen. Mempelajari sejarah dan sistem bangsa lain tidak untuk meniru atau mencangkok untuk dipaksakan penerapannya pada bangsa kita.  

Sebuah generasi pemuda yang tidak mau menengok kembali tindakan politik seorang Soekarno, Hatta dan pendiri bangsa lainnya, yang telah berhasil menyatukan dan memerdekakan bangsa Indonesia. Soekarno bahkan mampu menggalang kerjasama antar berbagai negara untuk menyelenggarakan Konfrensi Asia Afrika untuk melawan neokolonialisme dan imperialisme, membentuk Gerakan Non Blok, dan sejumlah tindakan politik nasional dan internasional lainnya, yang sama sekali tidak sanggup dilakukan oleh generasi pemuda saat ini.

Namun, kesombongan kaum intelektual yang pernah mengenyam pendidikan di USA dan Eropa dengan teori dan ideologi liberalnya, terbukti hanya jadi “pepesan kosong”. Reformasi yang telah berlangsung selama dua belas tahun telah membuktikan, konstruksi gagasan liberalisme, yang mereka banggakan dan paksakan untuk diterapkan di Indonesia, justru telah membumihanguskan kepribadian bangsa Indonesia. Reformasi justru menghasilakan keterbelakangan bangsa, kemiskinan dan korupsi tumbuh subur, bahkan ancaman perpecahan bangsa.

Dibandingkan dengan para pendiri bangsa, dengan pemikiran dan tindakannya, yang telah membuktikan pada dunia, berhasil menyatukan dan memerdekakan bangsa Indonesia. Tidak ada prestasi yang dapat dibanggakan oleh para intelektual di era reformasi dalam memperbaiki keadaan bangsa dan rakyat yang makin terpuruk. Prestasi dan kesombongan  yang dapat mereka banggakan adalah keberhasilan mereka dalam membangun wacana “pepesan kosong” tentang sebuah negara.

Karena itu di dalam buku SBY Mundur ini, sengaja kami sajikan kembali dua tulisan dari dua orang bapak Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia, yaitu Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Untuk tulisan Bung Karno, kami pilihkan tulisannya mengenai  “Pancasila sebagai Dasar Piagam yang Universal untuk Kesejahteraan seluruh Umat Manusia”, yang menjelaskan bahwa  Pancasila bukan hanya menjadi ideologi nasional bangsa Indonesia, tapi dapat dijadikan sebagai sintesa dari benturan peradaban antar kapitalisme yang sudah bangkrut dan komunisme yang ditolak di berbagai tempat.

Nilai-nilai Pancasila dapat menjadi ideologi yang dapat dipakai secara internasional untuk mengakhiri kemarau dan kegegelapan panjang umat manusia di seluruh dunia.

Untuk tulisan Bung Hatta, sengaja kami pilihkan tulisannya tentang “Pemuda Indonesia dan Politik”. Tulisan Bung Hatta ini adalah sebuah pledoi yang dibacakan Bung Hatta di depan pengadilan di negeri Belanda. Tulisan Bung Hatta ini kami pilihkan, agar kita bisa menengok kembali perilaku Bung Hatta, yang sekolah di negeri Belanda, tapi tidak mau menjadi seorang Belanda, yang bermental dan berperilaku melebihi orang Belanda. 
Mental inlander tersebut memang menjangkit pada sejumlah intelektual di negeri ini, terutama yang pernah mengenyam pendidikan di Amerika dan Eropa. Para intelektual tersebut bahkan berpikir dan berperilaku melebihi orang Amerika dan Eropa. Mereka juga sangat militan membela pandangan dan ideologi bangsa Amerika dan Eropa, melebihi membela bangsa dan rakyatnya sendiri.

Mereka memaksakan teori-teori sosial dan sistem negara yang dipakai di negeri  tempat mereka mengenyam pendidikan untuk diterapkan di Indonesia. Hasilnya, yang berkembang di Indonesia adalah ilmu sosial yang lepas dari keadaan sosialnya, antara ilmu dan keadaan sosialnya tidak memilik titik temu. Ilmu dan para ilmuwannya mengambang lepas dari keadaan masyarakatnya yang mempunyai sejarah pertumbuhan yang khusus.
Demikian juga sistem negara yang ditawarkan justru jauh dari problem negaranya, yang terbukti telah menghasilkan benturan di sana-sini. Padahal filosofi hadirnya sebuah sistem adalah sebagai solusi atas problem yang dihadapi oleh sebuah negara. Sistem adalah produk dari sebuah problem untuk mengatasi problem. Sistem negara yang  dicangkok dari negara lain, untuk dipaksakan diterapkan di Indonesia, pasti mengalami benturan dengan sejarah dan keadaan obyektif masyarakat Indonesia.

Terhadap para aktivis yang gigih membela bangsa dan rakyatnya, para intelektual tersebut malah menuduh sebagai penganut nasionalisme chauvinisme. Padahal kapitalisme yang melahirkan liberalisme yang telah melahirkan dua bentuk chauvinisme, yaitu chauvinisme dalam bentuk Fasisme Hitler dan cahuvinisme dalam bentuk  lain, yaitu kolonialisme imperialisme.

Fasisme maupun kolonialisme-imperialisme memang memiliki asal-usul sejarah yang berbeda, namun memiliki kesamaan dalam menempatkan bangsa dan ras-nya yang unggul dari bangsa lain, sehingga bangsa lain harus ditaklukan melalui penjajahan dan eksploitasi.

Nasionalisme itu sendiri adalah suatu kecintaan yang dalam terhadap tegaknya nilai-nilai kemanusian yang adil dan beradab di seluruh bangsa-bangsa di dunia. Di sisi yang lain, kapitalisme imperialisme telah membumihanguskan nilai-nilai tersebut, dan menjadikan penindasan dan eksploitasi tanpa ampun terhadap suatu bangsa dan manusia sebagai tujuannya.

Tulisan lainnya di dalam buku ini yang perlu dijelaskan adalah tentang “Kegagalan Mendasar Presiden SBY dalam Memimpin Bangsa dan Negara”. Tulisan ini direvisi dari surat terbuka yang pernah disampaikan oleh Petisi 28 kepada Presiden SBY melalui staf Sekretariat Negara, yang ditembuskan kepada Pimpinan DPR-RI, serta pernah disosialisasikan kepada media massa cetak dan elektronik.

Surat kepada Presiden SBY tersebut adalah sebuah niat baik untuk memperbaiki keadaan negara yang telah menjadi negara gagal, dengan menyampaikan fakta kegagalan mendasar dan jalan keluar politik untuk mengatasinya. Walaupun tidak ada respon terhadap surat tersebut dalam bentuk perubahan kebijakan yang dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia.

Buku SBY Mundur ini tidak menggunakan metode akademik tertentu dalam mengupas sebuah masalah dan merumuskan jalan keluarnnya. Buku ini berisi pandangan berbagai elemen pemuda tentang problem mendasar yang dihadapi oleh rakyat dan bangsa Indonesia, disertai gagasan jalan keluar yang harus ditempuh untuk mengatasi masalah bangsa dan rakyat yang berkelanjutan.

Semoga buku ini bermanfaat untuk mengantarkan kita memahami “dosa-dosa” mendasar yang dilakukan oleh Presiden SBY sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Mengantarkan kita untuk memahami pengkhianatan reformasi yang dilakukan oleh elite politik tua (reformis gadungan), yang telah menjual bangsa ini secara sangat murah kepada penjajah asing melalui amandemen terhadap UUD 1945.

Semoga buku ini dapat membuka mata kita untuk melihat secara terang benderang, bahwa bangsa ini telah habis dirampok oleh neokolonialisme dan imperialisme dengan menggunakan senjata konstitusi dan produk hukum. Tanah, air dan seluruh kandungannya dijarah, rakyat-nya ditindas dan dieksploitasi.

Semua perampokan terhadap kekayaan dan asset, serta perbudakan terhadap rakyat Indonesia tersebut, dilakukan dengan menggunakan “senjata” konstitusi dan produk peraturan turunan.  Semua perturan tersebut dibuat atas kerjasama kekuatan nekolim dengan para boneka-nya yang tersebar di seluruh institusi negara, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, dari pusat hingga daerah. 

Semoga buku ini juga dapat menjadi pengantar untuk menjadi pedoman ideologis dari para pemuda dalam menempuh perjuangan politik yang  tulus dan ikhlas untuk rakyat, bangsa dan negara. Marilah Pemuda Indonesia, bangkit dan bersatu, kita kembali pada diri kita sendiri, kembali pada Pancasila. Hanya kita, para pemuda yang idealis dan tulus, yang akan memimpin mengatasi krisis yang terjadi pada bangsa ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhai dan merahmati niat baik kita untuk memperbaiki keadaan bangsa Indonesia yang sudah sangat rusak, serta melampangkan jalan kepada kita untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari ancaman kepunahan, karena pengkhianatan demi pengkhianatan yang dilakukan oleh para pejabat negara.

BANGKIT-BERSATU PEMUDA INDONESIA!!
Jakarta, 01 Maret 2011
Haris Rusly, adalah mantan aktivis mahasiswa 1998. Saat ini sebagai Aktivis Petisi 28

Facebook Comments

0 komentator:

Poskan Komentar

Mohon Ma'af untuk tidak berkomentar yang mengangung SPAM. Silahkan berkomentar sebagai masukan untuk kami. Komentar anda sangat berarti, untuk kemajuan blog ini.
>>> Terimakasih anda telah mengungjungi blog AHMAD MUHIBULLAH/CP:087828150515, Jangan Lupa mampir lagi yahhh <<<