Rabu, 25 Juli 2012

Krisis Kaderisasi Aktivis Berkualifikasi plus Toksin Tradisi

Krisis Kaderisasi Aktivis Berkualifikasi plus Toksin Tradisi
Oleh Achmad Badaruddin

Mahasiswa memiliki tiga peran dan fungsi yakni agen perubahan, kontrol sosial, dan stok penerus bangsa. Tentunya mahasiswa hendaknya juga menjunjung tridharma perguruan tinggi seperti pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Maka mahasiswa yang memilih menjadi aktivis di kampus, justru seharusnya memiliki visi yang lebih jauh ke depan dibanding mahasiswa yang bukan aktivis.

Beberapa kata kunci yang dikaitkan dengan aktivis adalah organisatoris dengan perjuangan kolektif, intelektualisme dan misi sosial sebagai pejuang keadilan. Sedangkan aktivis sejati memiliki kriteria sebagai berikut memiliki idealisme yang kuat, sifat negarawan, berkualitas dan cerdas, serta konseptor ataupun pelaksana gerakan.

Aktivis juga manusia biasa yang tidak memiliki tiket bebas dari kesalahan ataupun dosa. Tentuya mereka memiliki gaya hidup. Walaupun banyak dari aktivis yang hidup dalam kemudahan dan segala kemewahan, tidak sedikit aktivis yang hidup dalam kesederhanaan. Selain itu, itu biasanya mereka haus akan ilmu pengetahuan sehingga sangat gemar membaca. Bahkan pengalaman hidup para aktivis tidak jarang diwarnai dengan penderitaan, tekanan dan bahkan konflik berdarah namun tetap kukuh pada garis perjuangannya. Lebih parahnya, gara-gara menjadi aktivis yang kritis, terkadang mereka harus menjadi korban konspirasi politik busuk hingga harus mencicipi tak sedapnya dekaman penjara akibat kurangnya rasa kekeluargaan pihak kampus atau kepentingan-kepentingan tertentu. Lagi-lagi aktivis selalu menghadang tantangan dari hasil advokasi dalam membela kebenaran. Idealnya, mereka memiliki mental baja bukan mental kerupuk. Saat ini aktivis cenderung tenteram dan tanpa konflik, malah sering terjadi bentrokan dan konflik antar mahasiswa. Setelah itu, aktivis harus bersikap moderat, ekstra sabar agar dapat menghadapi orang-orang dengan model, karakter dan sifat-sifat yang sangat berlainan. Berkaitan dengan itu, aktivis harus bisa menjadi manajer (pengatur) konflik yang handal. Aktivis sebaiknya mampu menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang sekitarnya. Dan terakhir, mereka cenderung bertindak demi kepentingan organisasi. Dengan begitu, aktivis diharapkan dapat menjadi pemimpin masyarakat dan dapat berfikir bebas. Walaupun demikian, kriteria-kriteria tersebut tak banyak ditemui seutuhnya dalam sesosok aktivis dan tak sedikit pula aktivis yang menggadaikan dan melacurkan idealismenya demi mendapatkan kepentingan sesaat seperti jabatan, posisi, pekerjaan, uang, mobil, dan keuntungan lainnya. Aktivis yang seperti ini biasanya ditunggangi beberapa individu ataupun kelompok elit yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu. Kader-kader aktivis yang seperti inilah yang sangat jauh dari kualifikasi aktivis sejati. Akibatnya, aktivis yang tidak berbuat demikian mendapatkan getahnya. Maka dari itu, hati-hatilah dalam memilih hingga mengkader aktivis! Sebab munculnya tokoh-tokoh besar yang tidak jujur, KKN, korupsi dan tindakan tercela lainnya akibat dari kesalahan dalam pengkaderan atau ditabrakkan dengan suasana dan kondisi yang sulit serta dilematis, yakni konfrontasi dengan kebutuhan dan kepentingan. Di dalam perguruan tinggi, siapa saja yang bertanggungjawab dan dapat mengantisipasi hal ini terjadi pada bangsa ini? Rektorkah? Mahasiswakah? Dosenkah? Atau siapa? Seperti inikah pendidikan karakter yang diharapkan?

Sebenarnya menjadi aktivis adalah sebuah ikhtiar untuk merubah dan menciptakan pribadi-pribadi yang fenomenal. Karena pengetahuan, pengalaman dan kelebihan yang dimiliki aktivis dapat menjadi modal yang baik untuk menjadi orang besar. Contohnya Soekarno dan Mohammad Hatta adalah dua orang besar pada awala kemerdekaan yang memulai perjuangannya dengan memulai perjuangannya dengan menjadi aktivis kemahasiswaan.bahkan konsep nation and character building berasal dari teori dan karya Bung Karno. Sementara Bung Hatta merupakan puncak intelektual-aktivis yang tetap menjaga martabat dan kualitas moralnya sampai ke liang lahat. Tak lain bahwa Bung hatta memiliki soft skill yang bagus. Contoh-contoh aktivis yang menjadi orang besar pada konteks sekarang, misalnya Jusuf Kalla (Aktivis HMI), Anas Urbaningrum (mantan PB HMI), Muhaimin Iskandar (mantan Ketua PB PMII), Rama Pratama (mantan Ketua Senat UI), Amien Rais (pendiri IMM) dan masih banyak yang lainnya. Begitu pula halnya Nurcholish Madjid (Cak Nur), pernah menjabat sebagai ketua umum PB HMI. Beliau dikenal sebagai tokoh besar yang disegani karena pemikirannya. Dalam dunia aktivis, bagi Cak Nur  adalah dunia yang tidak hanya mengasah kepekaan intelektual dan berisi dengan aktivisme ekstrim, tetapi juga mendukungnya dalam membentuk karakter ketokohan.

            Biarpun begitu aktivis juga harus memiliki soft skill yang baik untuk mencapai tujuan-tujan tersebut. Softskill merupakan kemampuan diri dalam mengatur emosional dan sosial, seperti berkomunikasi efektif, mampu bekerjasama dalam tim, pandai membina hubungan interpersonal dan sebagainya. Hal ini semestinya dimiliki mahasiswa sebelum mengabdi di perusahaan, pemerintahan atau masyarakat. Biasanya orang yang hanya menghandalkan hard skill tidak begitu diminati dan karirnya sulit untuk menanjak. Menjadi aktivis kampus yang mengikuti kegiatan ektrakurikuler tidak hanya diharapkan dapat berkontribusi di lingkungan sekitarnya pada bidangnya masing-masing tetapi juga dapat bermanfaat bagi dirinya secara pribadi dalam rangka pengembangan diri khususnya soft skill. Sebab pengembangan diri bisa dilakukan melalui mengikuti pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler.

            Pemilihan program pengembangan diri melalui ekstrakurikuler hendaknya dapat dipertimbangkan sebaik mungkin. Sementara kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kemahasiswaan yang meliputi: penalaran dan keilmuan, minat dan kegemaran, upaya perbaikan kesejahteraan mahasiswa dan bakti sosial bagi masyarakat. Berhubung banyaknya organisasi dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang dapat diikuti baik di dalam (Himpunan, BEM, MPM, BPM, MTM, DPM, UKM, dan sebagainya) maupun di luar kampus (SAPMA PP, HMI, KAMMI, PMII, GMNI, AMPG, ikatan mahasiswa berdasarkan asal daerah ataupun keilmuan dan sejenisnya), hal ini dapat dikaitkan dengan perencanaan hidup ke depannya. Tak hanya sekedar mempertimbangkan hobi saja melainkan faktor-faktor lain juga perlu dipertimbangkan. Faktor internal dan eksternal diri dapat dipertimbangkan. Faktor internal bisa dilihat dari motivasi, minat/hobi, kelemahan dan kelebihan diri. Sedangkan faktor eksternal dapat diperhatikan misalnya resiko,  peluang dan prospeknya. Dengan begitu, dalam pengambilan keputusan dalam pemilihan kegiatan yang diikuti dapat dilakukan sebijak mungkin. Bahkan penilaian faktor-faktor tersebut tidak hanya perlu dilakukan secara rasional namun diseimbangkan dengan emosional pun bisa dijadikan takarannya. Dan kenormatifan perlu juga dapat ditambahkan sebagai pertimbangan dalam standar penilaian kebijakan- kebijakan yang akan diambil. Maka dari itu, aktivis kampus atau sering disebut aktivis mahasiswa ini harus memiliki lifeplan yang jelas dan tepat. Sehingga tidak salah dalam memilih wadah untuk pengembangan dirinya. Garis besarnya hal ini dilakukan agar tidak salah mengambil pilihan hingga kegiatan-kegiatan yang diikuti merupakan bagian kebutuhan dari diri sendiri dan tidak hanya hanya sekedar mengisi waktu luang sehabis kegiatan akademik yang merupakan menu utama.

            Penyelesaian studi akademik (wisuda) tepat waktu merupakan idaman para mahasiswa. Namun pertanyaan bagi mahasiswa yang sedang berstatus wisudawan/ti adalah “Apa saja bekal yang telah dipersiapkan untuk terjun ke masyarakat dan menghadapi persaingan global yang semakin ketat setelah menyelesaikan perkuliahan alias wisuda selain nilai yang bagus?” atau “Apakah telah memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum diwisuda?” atau “Apa kelebihannya dan softskill yang dimiliki dibanding lulusan akademik lainnya?”.  Beruntunglah bagi para lulusan akademik yang dapat menjawabnya tanpa beban dan berkesimpulan telah menyiapkan dirinya sebaik-baik mungkin. Apalagi bagi purna aktivis mahasiswa yang tepat dalam mempersiapkan dirinya. Faktanya, banyak juga aktivis mahasiswa yang berhasil diwisuda tepat waktu. Bahkan pada umumnya laris diincar oleh pemburu lulusan akademik berkualitas dari berbagai kalangan. Setidaknya ada juga yang bisa mandiri membuka lapangan kerja sendiri. Aktivis mahasiswa yang berhasil mempersiapkan dirinya dan setelah wisuda bak mutiara yang jadi rebutan bagi para pemburu mutiara  serta layaknya intan yang tak akan berkarat, meski dibawa kemanapun tetaplah intan yang kharismatik. Hal ini didukung dengan organisasi kemahasiswaan memiliki salah satu fungsi sebagai sarana dan wahana pembinaan dan pengembangan kader-kader bangsa yang berpotensi dalam melanjutkan kesinambungan pembangunan nasional.

            Meskipun demikian, masih banyak mahasiswa yang apatis terhadap kegiatan ekstrakurikuler contohnya dalam berorganisasi. Tuntutan akademik sering dijadikan alasan ketika ditanyakan sebab ketidak-ikutsertaannya. Sebenarnya lambat atau cepat selesainya lama studi tergantung kepada kemampuan  memanajemen waktu yang dimiliki agar dapat memprioritaskan hal-hal yang seharusnya didahulukan. Aktivis yang berprestasi dan memiliki visi yang bagus, biasanya memiliki jadwal kegiatan harian, mingguan dan bulanan hingga target pencapaian dalam kehidupannya (life plan). Selain itu,  ketika dihadapi berbagai masalah, dia harus menyelesaikannya dengan baik. Caranya dimulai dari menginventarisir dan mengidentifikasi masalah yang dihadapi, kemudian diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu masalah yang penting dan mendesak, penting dan tidak mendesak, tidak penting dan mendesak serta tidak penting dan tidak mendesak. Setelah itu, baru diselesaikan sesuai kebutuhan dan urutan yang diprioritaskan. Begitulah hendaknya manajemen masalah yang digunakan agar dapat diselesaikan secara efisien dan efektif. Dalam hal ini, kecerdasan Adversity Quetiont aktivis mahasiswa sangat dituntut.

Idealnya waktu penyelesaian kuliah adalah empat tahun. Akibatnya aktivis mahasiswa seharusnya menyesuaikan aktivitasnya dengan jadwal perkuliahannya bukan sebaliknya. Perencanaan dalam berorganisasi pun harus terencana dan dinamis sebagai bukti progress kemampuan dan karir dalam berorganisasi. Misalnya tahun pertama mengikuti berbagai kegiatan ekstrakuriler untuk mencari jati diri bagi yang belum menemukannya, memantapkan soft skill, mempersiapkan diri menjadi pengurus organisasi dan menimba/mengaplikasikan ilmu di luar jam perkuliahan. Seterusnya pada tahun kedua aktif menjadi pengurus organisasi kemahasiswaaan tingkat jurusan yang merupakan wadah mengembangkan penalaran dan keilmuan di jurusan masing-masing dan sebagai koordinator umum mahasiswa pada jurusan tersebut. Selanjutnya berpartisipasi sebagai pelaksana kegiatan kemahasiswaan dengan menjadi pengurus organisasi di tingkat fakultas pada tahun ketiga. Pada tahun ini diperlukan pengalaman dan kemampuan lebih dalam berkoordinasi dengan organisasi yang yang ada di bawahnya. Karena cakupannya lebih besar. Apabila mahasiswa tahun ketiga masih aktif di organisasi tingkat jurusan, sangat dirasa rugi dari pencapaian karir berorganisasi. Kemudian di tahun akhir akademik, dapat mengaplikasikan ilmu dan pengalaman dari organisasi sebelumnya dengan melibatkan diri sebagai pelaksana kegiatan kemahasiswaan pada organisasi kemahasiswaan di tingkat universitas. Tantangan pada organisasi ini tidak hanya pada lingkungan universitas saja tetapi juga harus kritis terhadap isu daerah, nasional dan internasional. Sehingga pada tahun kelima, sudah dapat menggunakan gelar sarjananya dengan mengaplikasikan ilmu-ilmu dan pengalaman dari bangku perkuliahan maupun di luar perkuliahan seperti organisasi. Apalagi masyarakat akan mengakui eksistensi aktivis berdasarkan penilaian-penilaian yang bersifat normatif, misalnya terkait gelar ataupun pendidikan (akademik) formal lainnya.

Maka dari itu, pola pengkaderan dan pelatihan bagi mahasiswa dalam berorganisasi sangatlah penting diperhatikan. Perlunya adanya kualifikasi kader yang tidak hanya berpatokan kepada historis, kultur dan senioritas yang telah ada semenjak tahun-tahun sebelumnya. Dibutuhkan revolusioner-revolusioner mahasiswa untuk menyikapi hal ini. Revolusioner yang berfikir dinamis, ilmiah, intelektual, dan tidak seperti katak dalam tempurung. Penulis menyarankan bahwa pola kecerdasan dan kebutuhan IE-4OK perlu dijadikan rekomendasi dalam mengasah kemampuan aktivis dalam setiap aktivitasnya. IE-4OK adalah Iman, Emosional, Originalitas, Otak, Otot, Ongkos dan Komunikasi. Item-item tersebut dirasa perlu karena mengingat aktivis bukan hanya makhluk sosial tetapi juga makhluk individu yang memiliki kebutuhan-kebutuhan pribadi yang sangat mendasar. Sebaiknya perwakilan mahasiswa tingkat perguruan tinggi yang menampung dan menyalurkan aspirasi mahasiswa, menetapkan garis-garis besar program dan kegiatan kemahasiswaan pada organisasi kemahasiswaan, dapat menetapkan kebijakan mengenai pola pengkaderan dan pelatihan sesuai bentuk dan badan organisasi kemahsiswaan yang bersangkutan.

Sementara bentuk dan badan kelengkapan organisasi kemahasiswaan baik itu di tingkat jurusan, fakultas dan universitas ditetapkan berdasarkan kesepakatan antar mahasiswa, tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang berlaku, dan statuta perguruan tinggi yang bersangkutan.\Hanya saja di setiap perguruan tinggi terdapat satu organisasi kemahasiswaan intra perguruan tinggi yang menaungi semua aktivitas kemahasiswaan. Bagaimana realitanya?
Berlama-lama menjadi aktivis mahasiswa dengan mengabaikan perkuliahan merupakan kebudayaan kampus yang sekarang sudah tidak sesuai lagi dengan zaman. Dahulu bisa tamat tujuh hingga sembilan tahun. Sekarang persaingan semakin ketat. Dalam kurun waktu tujuh tahun saja sebenarnya sudah bisa menyelesaikan program sarjana (Starata  1) dan master (Strata 2) serta sedang mengikuti perkuliahan di program doktor (Strata 3). Ini dibuktikan banyaknya doktor-doktor bahkan professor muda yang bermunculan. Bagaimana dengan rencana Anda?

Nah, sekarang apakah krisis kaderisasi aktivis terjadi di setiap perguruan tinggi dan apakah realita senioritas selalu menjadi toksin kultur dalam pola pengkaderan aktivis mahasiswa? Serta apa saja sebenarnya yang menjadi akar permasalahan timbulnya ribuan mahasiswa yang apatis terhadap organisasi kemahasiswaan sejauh ini? Apakah benar aktivis mahasiswa cenderung anarkis dan frontal akibat pola pengkaderan yang tidak tepat? Bagaimana pola pengkaderan aktivis mahasiswa saat ini?

Referensi :
-          Berbagai sumber tulisan, panduan, peraturan, bahan pelatihan dan beberapa buku yang berkaitan
-          Perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk keobjetifitasan dan keakuratan tulisan ini

Facebook Comments

0 komentator:

Poskan Komentar

Mohon Ma'af untuk tidak berkomentar yang mengangung SPAM. Silahkan berkomentar sebagai masukan untuk kami. Komentar anda sangat berarti, untuk kemajuan blog ini.
>>> Terimakasih anda telah mengungjungi blog AHMAD MUHIBULLAH/CP:087828150515, Jangan Lupa mampir lagi yahhh <<<