Jumat, 03 Agustus 2012

SIC: Industrialisasi VS Ketahanan Pangan

Subang Intelektual Club (SIC)
Tema: Industrialisasi VS Ketahanan Pangan 
Hari: Minggu malam Senin
 Tanggal: 15 Juli 2012
( Edisi 1 )

Yang di hadiri Oleh: (Klik Link di bawah ini menuju Facebook bersangkutan)

Video Diskusi SIC Ke-1

“Kemenangan hanya diberikan kepada mereka yang terus berjuang dan berusaha, mereka telah tanpa sadar memantaskan dirinya untuk menerimanya.”

 INDUSTRIALISASI VS KETAHANAN PANGAN
Globalisasi adalah sebuah hal yang niscaya. Dijaman perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat dan berkurang nya batas-batas negara (borderless) batas yang semakin kabur antara negara satu dengan negara yang lain pun semakin tidak jelas.

Globalisasi pun meniscayakan adanya perkembangan ekonomi yang sangat cepat disebuah negara yang diakibatkan oleh adanya invasi-invasi ekonomi dari satu negara kepada negara yang lain. Maka dari itu, perkembangan industrialisasi akan semakin cepat yang disebabkan oleh adanya kebijakan penanaman modal-modal asing di berbagai negara terutama di negara-negara dunia ketiga (negara berkembang) seperti hal nya negara Indonesia.

Pola pembangunan negara dunia ketiga yang masih mengembangkan pembangunan dari sector-sector ekonomi non-formal dan sector informal seperti pertanian dan usaha-usaha kecil menjadikan negara tersebut sebagai sasaran dari Insutrialisasi Ekonomi oleh Negara-negara maju yang telah berkembang ekonomi nya dikisaran 7% lebih seperti Cina, Jepang dan Korea serta negara-negara Barat seperti Amerika, Jerman dan Inggris.

Kenapa dunia ketiga yang dijadikan sasaran perkembangan Industrialisasi? Karena di negara-negara berkembang seperti Indonesia ketersediaan akan tenaga kerja yang murah, ketersediaan bahan baku industry yang dekat dengan sumber dan juga ketersediaan akan lahan untuk pembangunan kawasan industry masih tersedia dengan sangat luas dan berharga murah.

Celakanya adalah, Pemerintah Negara berkembang seperti Indonesia membuka keran yang sangat lebar kepada Perusahaan-perusahan dari berbagai negara maju untuk melakukan investasi dan menanamkan modal di negara seperti Indonesia dengan mempertimbangkan hanya dari segi mengurangi angka pengangguran dan menaikan perdapatan perkapita saja tanpa dibarengi dengan menjaga agar Human Resources dan natural Resources bisa tetap terjaga untuk kemudian diwariskan kepada anak cucu mereka sendiri. Logika yang digunakan adalah semakin besar angkatan kerja yang terserap maka akan semakin besar pula pendapatan perkapita negara nya.

Hal tersebut berakibat kepada berbagai aspek terutama kepada aspek ketenaga kerjaan dan juga kepada aspek keberlangsungan lahan yang digunakan untuk pembangunan kawasan-kawasan industry tersebut. Dalam aspek ketenaga kerjaan, ketika lahir nya undang-undang ketenaga kerjaan maka lahirlah pula sistem kerja outsourching atau sistem kerja kontrak. Hal ini sangat merugikan kepada pekerja karena ketika keringat orang Indonesia diperas siang malam, tak ada jaminan yang diberikan oleh majikan terhadap buruh.

Selain itu, pembangunan untuk kawasan industry pun banyak menggunakan lahan pertanian produktif. Padahal dalam undang-undang jelas dikatakan bahwa untuk lahan produktif berkelanjutan tidak boleh dijadikan atau digunakan untuk pembangunan pabrik – pabrik ataupun sector indutri karena secara dampak, tanah yang digunakan tersebut akan menjadi tidak produktif kembali dan akan memiliki dampak kerusakan dan pencemaran lingkungan. Sehingga ketahanan pangan pun akan terganggu. Dampak nya pun telah terasa oleh Bangsa ini dimana dahulu dijaman orde baru, Indonesia yang dikenal sebagai Negara peng-ekspor beras sekarang menjadi negara peng-impor beras.

Facebook Comments

0 komentator:

Poskan Komentar

Mohon Ma'af untuk tidak berkomentar yang mengangung SPAM. Silahkan berkomentar sebagai masukan untuk kami. Komentar anda sangat berarti, untuk kemajuan blog ini.
>>> Terimakasih anda telah mengungjungi blog AHMAD MUHIBULLAH/CP:087828150515, Jangan Lupa mampir lagi yahhh <<<