Senin, 08 April 2013

“Atas nama liberalisasi, teruskan penjajahan!”

“Atas nama liberalisasi, teruskan penjajahan!”

Demikianlah inti dari resolusi bersama konferensi kaum modal se-dunia dimana para penguasa negeriku ikut berperan, telah disahkan tanpa setahu rakyat.

Begitulah keringat dan harapan kaum buruh sah untuk terus diperas dan digadaikan. Sah hanya dijadikan komoditi pada bursa tenaga kerja. Sah menjadi semata bagian dari sistem produksi. Dicetak jadi bit dalam pacuan informasi. Kerja sampai pagi, menghibur diri sampai mati.

Itu faktanya. Para penguasa negeriku cuma mampu jadi wayang di tengah dalang-dalang kapitalis asing. Cuma mampu membawa pulang penghisapan paling keji pada rakyatnya. Berjuta petani kehilangan hak atas tanahnya. Tak ada modal untuk bertani. Semua harus dibeli. Pupuk kimia, bibit hibrida, hingga pestisida: membuat hidup mereka jadi lebih sengsara. Saat panen tiba, harga-harga dibanting semaunya. Lalu pedagang-pedagang di kota, berpesta pora menikmati rentenya. Dan mereka bungkam. Selalu begitu. Mereka terdiam ketika ditipu, berharap sang ratu adil akan benar-benar dating membebaskan anak cucu.

”Atas nama kebebasan, teruskan penjajahan!”

Begitulah putra-putri ‘terbaik’ negriku hanya mampu berlagak pintar, berebut mengimpor pemikiran-pemikiran besar, menjadikan pengetahuan alat untuk saling menguasai. Menyulap keserakahan menjadi fungsi pertumbuhan ekonomi. Mereduksi Ideologi jadi senjata untuk saling menyakiti. Kebencian ditabur demi pembebasan materi. Hopla!

Karena revolusi telah tergadai. Karena revolusi telah berubah jadi komoditi. Maka hutang adalah pilihan terampuh untuk mengesahkan penindasan. Tidak ada MOU untuk keluar dari kemiskinan. Tidak ada yang gratis dalam hukum pertumbuhan. Semua harus diimpor dengan harga tinggi. Semua harus dimodali.

Atas nama kebebasan, teruskan penjajahan ….

Apakah rakyat akan tinggal diam? Rakyat silahkan memilih. Bersatulah! Jangan pelihara rasa takut! Jangan biarkan kebodohan menjadi kusta yang harus terus dimaklumi. Jangan menina-bobokkan egomu karena ego adalah tumor yang keganasannya mampu memakan impian-seluruh negeri. Pilihannya ada di dalam genggamanmu.

Ratna Sarumpaet

Facebook Comments

0 komentator:

Poskan Komentar

Mohon Ma'af untuk tidak berkomentar yang mengangung SPAM. Silahkan berkomentar sebagai masukan untuk kami. Komentar anda sangat berarti, untuk kemajuan blog ini.
>>> Terimakasih anda telah mengungjungi blog AHMAD MUHIBULLAH/CP:087828150515, Jangan Lupa mampir lagi yahhh <<<