Senin, 29 April 2013

PEMILU DAN TRADISI POLITIK PARPOL: "MENYELESAIKAN MASALAH BANGSA DENGAN MENG-AWETKAN MASALAH"

**

Seri 2

Note:
PEMILU DAN TRADISI POLITIK PARPOL: "MENYELESAIKAN MASALAH BANGSA DENGAN MENG-AWETKAN MASALAH"

By: Haris Rusly (Petisi 28)

Kita sering membaca slogan yg "abnormal" di kantor Pegadain, "Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah". Aneh, kita menggadaikan berang berharga milik kita, yg belum tentu bisa ditebus kembali, dinilai bukan masalah.

Selain kantor Pegadaian, mayoritas pimpinan parpol dan Capres eyang-eyang juga dengan sadar dan terencana, membangun tradisi politik "Menyelesaik Masalah Dengan Mengawetkan Masalah". Mereka mempunyai kesamaan pandangan soal cara melakukan perubahan di negeri ini.

Bagi mereka, untuk mewujudkan perubahan mendasar, dibutuhkan penguasaan mayoritas kursi di parlemen. Selain itu, Ketua Dewan Pembina atau Ketua Umumnya harus terpilih jadi Presiden. "Tentu, pandangan tersebut tak salah, dan sangat masuk akal".

Namun, yg abnormal-nya, para pimpinan Parpol dan Capres tersebut juga berpandangan, bahwa untuk menguasai mayoritas kursi di parlemen dan menempatkan kandidat-nya sebagai Presiden terpilih, mereka harus menggunakan segala cara, termasuk cara-cara haram, yaitu dengan menipu, membeli dan memanipulasi suara rakyat.

"Tak ada lagi Parpol yg berjuang untuk mendidik rakyat sebagai jalan meraih kemenangan".

"Bila untuk tujuan mewujudkan perubahan bangsa dan nasib rakyat, mereka harus menipu dan membeli suara rakyat. Maka, pertanyaannya, perubahan seperti apa yg hendak mereka wujudkan?" Bukankah masalah mendasar bangsa Indonesia sepanjang era reformasi adalah terkuburnya "velue system" dan diganti oleh "price system".

Ternyata "price system adalah masalah yg sengaja diawetkan" oleh seluru pimpinan Parpol untuk merusak moral politik rakyat, agar mereka dengan gampang membeli suara untuk bisa berkuasa.

Bukankah teori perubahan dengan menipu dan memanipulasi suara rakyat, pernah dipraktekkan Partai Demokrat dan SBY pada pileg dan pilpres 2009? Hasilnya, mereka menang telak, dan nasib bangsa kini hancur telak.

**

Facebook Comments

0 komentator:

Poskan Komentar

Mohon Ma'af untuk tidak berkomentar yang mengangung SPAM. Silahkan berkomentar sebagai masukan untuk kami. Komentar anda sangat berarti, untuk kemajuan blog ini.
>>> Terimakasih anda telah mengungjungi blog AHMAD MUHIBULLAH/CP:087828150515, Jangan Lupa mampir lagi yahhh <<<