Sabtu, 13 April 2013

Sejarah Kisah Putus Sambung Soekarno - Hatta


PADA 10 November 1945 usia Indonesia kala itu baru 3 bulan pasca kemerdekaan. Kala itu terjadi pertempuran besar pertama pascaproklamasi di Surabaya, Jawa Timur. Dipicu dari kemarahan masyarakat yang melihat bendera Belanda berkibar di Hotel Yamato, Surabaya di tengah euphoria kemerdekaan masyarakat.

Ribuan pahlawan gugur dan mereka menularkan semangat kebangsaan pada daerah-daerah di Indonesia. Sehingga dikuhkuhkan lah 10 November menjadi Hari Pahlawan. Masyarakat kala itu bersatu, tak melihat suku, tak melihat agama, berjuang melawan musuh bersama.

Ribuan nyawa tergeletak berserakan. Kota Surabaya dibumi hanguskan lewat pemboman udara sekutu dan gelegar meriam kapal laut. 10 November 1945 pasukan sekutu berusaha mendaratkan pasukan di Kota Surabaya. Gabungan pasukan Belanda dan Inggris juga punya balas dendam atas kematian Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, 30 Oktober 1945 di kawasan Jembatan Merah, Surabaya.

Arek-arek Suroboyo tak sekedar menjawab ultimatum kepada pimpinan dan orang Indonesia untuk menyerahkan senjata. Batas waktunya pukul 6 pagi, 10 November 1945. Insiden perobekan bendera merah putih biru menjadi merah putih di Hotel Yamato jadi pemicu adalah wartawan Soetomo atau Bung Tomo mengobarkan semangat perjuangan.

Penduduk Surabaya dan sekitarnya menjawab armada NICA Belanda dan Inggris dengan kepala tegak dan lantang berteriak "Pulang Kau Penjajah..."
Lalu bambu runcing melawan meriam dan bom-bom udara. Sekitar 15 ribu nyawa syuhada berpulang. Lebih baik berkalang tanah daripada hidup kembali dalam penjajahan. Sekitar 200 ribu penduduk Surabaya mengungsi.

Kemerdekaan Indonesia tak didapat hanya dari perjuangan satu atau dua orang saja. Puluhan ribu pahlawan berkorban untuk mengibarkan sang saka merah putih. Lalu bagaimana nasib veteran kini? Sudahkah bangsa kita dan kita sendiri menghargai jasa para pahlawan?

Syahdan Bung Karno dan Bung Hatta berpisah lagi. Soekarno di tahun 1965 itu berada di puncak kekuasaan sebagai pemimpin besar revolusi juga presiden seumur hidup. Sementara Mohammad Hatta berada di luar kekuasaan. Bahkan risalahnya "Demokrasi Kita" yakni kritikan kepada demokrasi terpimpin dilarang. Dan kita tahu di pertengahan dasawarsa 1960-an itu bintang Soekarno sedang menyala terang benderang.

Pemerintah baru memberikan gelar Pahlawan Nasional pada proklamator Soekarno-Hatta. Muncul wacana ini adalah cara agar seluruh Presiden Indonesia mendapat gelar yang sama. Apa yang salah? Mengapa gelar pahlawan dicederai? Mana yang lebih penting, gelar atau kesejahteraan veteran?

Lantas, mengapa Bung Karno dan Bung Hatta disebut berpisah lagi?

Kita kembali ke masa lebih jauh lagi sekitar 18-20 Mei 1929, Kongres Kedua Partai Nasional Indonesia (PNI) di Jakarta. Disana lah pemuda Mohammad Hatta dan Soekarno berduet bahu membahu bersama sederet pemuda lainnya. Tujuan mereka sangat jelas yaitu merdeka. Kala itu, Bung Karno duduk sebagai Ketua PNI.

Di seberang pihak, Pemerintah Hindia Belanda semakin cemas. PNI semakin mendapat tempat di hati rakyat Indonesia. 29 Desember 1929 bersama sejumlah elite PNI Soekarno dijebloskan ke penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. PNI mengalami kevakuman, jabatan ketua lalu dipegang Sartono.

Tekanan Belanda memaksa PNI pada dua pilihan. Golongan yang menolak pembubaran PNI membentuk organisasi baru yaitu Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru dengan tokohnya Bung Hatta dan Syahrir. Sedang golongan penerima pembubaran PNI membentuk Partai Indonesia (Partindo) dengan Sartono sebagai ketua. Sekeluar dari penjara, Bung Karno memilih bergabung dengan Partindo.

Bung Hatta dan PNI Baru mengutamakan gerakan partai kader. Anggotanya harus terpilih dan terlatih dalam berpandangan serta berorganisasi. Sementara Bung Karno berpandangan lain. Menurut Soekarno, Ia lebih baik mendatangi rakyat jelata dan membakar serta menggelorakan hati mereka sebagaimana yang ia kerjakan.

Beda tajam di masing-masing kubu inilah yang menjadi perpisahan pertama Bung Karno dan Bung Hatta.

Facebook Comments

0 komentator:

Poskan Komentar

Mohon Ma'af untuk tidak berkomentar yang mengangung SPAM. Silahkan berkomentar sebagai masukan untuk kami. Komentar anda sangat berarti, untuk kemajuan blog ini.
>>> Terimakasih anda telah mengungjungi blog AHMAD MUHIBULLAH/CP:087828150515, Jangan Lupa mampir lagi yahhh <<<