Senin, 20 Mei 2013

Editorial Media Indonesia: Arus Balik Reformasi [Senin 20 Mei 2013 ]


Description:

Kebangkitan nasional dan reformasi merupakan dua peristiwa yang dianggap identik dalam sejarah perjalanan bangsa.

Itu bukan semata karena kedua peristiwa terjadi pada Mei di hari atau tanggal yang berdekatan, melainkan karena keduanya punya semangat yang sebangun. Semangat itu ialah menyelamatkan bangsa dan negara dari kolonialisme Belanda dan rezim otoritarianisme Orde Baru.

Seratus lima tahun lalu, Boedi Oetomo dilahirkan dari gagasan Dr Sutomo tentang tugas generasinya untuk masa depan bangsa. Tidak jauh berbeda, reformasi 1998 tercipta dari gerakan mahasiswa yang ingin menyelamatkan kondisi bangsa dari ambang kehancuran.

Namun, jika misi nasionalisme Boedi Oetomo menjadi motor politik pergerakan kemerdekaan, yang terjadi pascareformasi 1998 justru sebaliknya. Setelah berhasil menumbangkan rezim Orde Baru, gerakan reformasi justru seperti hilang arah.

Anak panah reformasi melenceng jauh dari sasaran semula, bahkan seperti berbalik ke titik awal. Itu terjadi karena absennya visi dari para pencetus gerakan itu sendiri.

Gerbong reformasi celakanya dibajak penumpang gelap yang hanya mengejar kepentingan kelompok. Mahasiswa penggerak reformasi yang beberapa tahun kemudian menduduki kursi di parlemen atau pemerintahan seperti ikut terseret arus balik reformasi.

Kini di 15 tahun berjalannya reformasi, korupsi dan oligarki yang dulu dipraktikkan rezim Orde Baru kembali subur. Politik dinasti merajalela dan cara-cara transaksional menjadi virus yang menjangkiti sistem politik dan pemerintahan.

Dalam proses perundangan, muncul kesan adanya upaya mengembalikan otoritarianisme. Pada RUU Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), misalnya, pasal tentang penghinaan terhadap presiden muncul kembali. Padahal, pasal itu sudah dicabut Mahkamah Konstitusi pada 2006 karena dinilai bisa menimbulkan ketidakpastian hukum.

Sinyalemen serupa juga diperlihatkan dari pasal-pasal di RUU Keamanan Nasional (Kamnas). Di situ militer diberi jalan untuk mencampuri persoalan sosial kemasyarakatan di dalam negeri. RUU itu pun mementahkan kembali tujuan reformasi tentang supremasi dan hak-hak masyarakat sipil sebagai bagian penting dalam definisi keamanan nasional.

Jika kita menengok kembali perjalanan kebangkitan nasional, para pemimpin di era Boedi Oetomo tidak pernah menukar tujuan nasionalisme mereka untuk kepentingan yang lebih rendah. Mereka pun bukan kaum yang hanya sibuk berwacana.

Sebaliknya, aksi-aksi politik mereka lahir dari interaksi dalam berbagai permasalahan sosial yang ada saat itu. Karena itu, perjuangan mereka semakin matang dan kuat karena mereka menyerap apa yang disuarakan rakyat. Mereka pun mendapat sokongan penuh dari masyarakat.

Rumusan dan semangat kebangkitan nasional itu semestinya menyertai setiap langkah reformasi ke depan, demi membendung arus balik reformasi dan mengembalikannya ke tujuan semula.

Bila kita gagal mengembalikan reformasi ke arah dan tujuan awal, rakyat tidak akan menyokong gerakan reformasi tersebut dan justru merindukan masa lalu, masa Orde Baru.

Facebook Comments

0 komentator:

Poskan Komentar

Mohon Ma'af untuk tidak berkomentar yang mengangung SPAM. Silahkan berkomentar sebagai masukan untuk kami. Komentar anda sangat berarti, untuk kemajuan blog ini.
>>> Terimakasih anda telah mengungjungi blog AHMAD MUHIBULLAH/CP:087828150515, Jangan Lupa mampir lagi yahhh <<<